INTERNETISASI JARINGAN
INTRA DAN INTER KEUSKUPAN
SELURUH INDONESIA

 

PERKENALAN

Perkenankanlah Komisi KOMSOS KWI memperkenalkan diri. Para Uskup seluruh Indonesia tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). KWI mempercayakan pelaksanaan kepentingan-kepentingan KWI serta urusan-urusan lainnya kepada Sekretariat Jenderal KWI. Demi efisiensi, Sekretariat Jendral membagi-bagi wilayah tugas dalam Komisi-Komisi, Lembaga-Lembaga, dan Departemen-Departemen. Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) KWI bertugas untuk membantu KWI dalam bidang komunikasi, khususnya penggunaan teknologi informasi (Radio, TV, Film, Cetak, dan Internet) dalam pewartaan Injil, baik ke dalam bagi umat sendiri maupun ke luar bagi masyarakat umum.

 

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

Tiap tahun Gereja Katolik menyediakan hari khusus untuk menyadari peran penting komunikasi dan teknologi informasi dalam pewartaan Injil: Hari Komunikasi Sedunia. Tahun 2001 ini hari itu jatuh pada hari Minggu, 27 Mei. Jauh sebelum internet dikenal luas di Indonesia, tepatnya pada tahun 1990 pada Hari Komunikasi Sedunia , Bapa Suci, Yohanes Paulus II, sudah berpesan “Bersalah lah Gereja kalau tidak menggunakan teknologi informasi ini untuk pewartaan.” (Message, 1990). Dan untuk tahun ini, Bapa suci mencanangkan suatu tema “Mewartakan Injil dari sotoh-sotoh rumah dalam era komunikasi global. ” (Message, 2001)

 

TANTANGAN GEREJA

Belakangan ini kualitas dan kuantitas hubungan antar umat di dalam tubuh gereja makin menurun. Perkembangan jaman dan situasi yang telah berubah menyebabkan hubungan yang intens, erat dan akrab makin sulit dilakukan. Sayangnya lagi, penambahan jumlah gembala tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah umat yang cukup pesat sehingga tugas gembala untuk merengkuh seluruh umatnya terasa makin berat. Banyak umat yang tetap masih belum terjangkau sehingga merasa ditinggalkan dan diabaikan. Padahal kesibukan sang gembala tak pernah surut.

Waktu terasa kian berharga bukan hanya bagi umat tetapi juga bagi para gembala. Harus ada sesuatu yang dilakukan untuk menjembatani keadaan yang dapat memperlemah sendi-sendi kekuatan gereja ini. Sabda iman harus bisa terus digemakan, meski harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Umat dan para gembalanya harus dapat mengatasi jarak dan waktu untuk bisa terus saling berhubungan. Media ampuh yang diharapkan bisa menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan ini adalah Internet.

Di awal abad ke-21 ini Internet telah menunjukkan peran pentingnya dalam berbagai hal Sebagai alat komunikasi tercanggih yang ada di bumi saat ini, Internet sudah digunakan lebih dari 120 juta orang. Lewat Internet, beragam organisasi – profit maupun non profit – dan para anggotanya dapat saling berkomunikasi dan mengakses informasi tak peduli dimana pun mereka tengah berada, di belahan dunia manapun. Oleh sebab itu sudah selayaknya gereja ikut memanfaatkan peran perkembangan dan kemajuan teknologi ini dalam mempertahankan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat. Melalui Internet gereja bahkan bisa memperbesar perannya sebagai penerang, penghibur, penenang, dan (jika memungkinkan) penolong bagi siapa saja yang membutuhkan. Terlebih dalam masa-masa sulit seperti sekarang, yang bukan hanya terasa sulit bagi umat Kristiani tetapi juga bagi umat beragama lainnya di berbagai tempat di Indonesia.

Tantangan jaman agaknya membuat nilai-nilai yang dikemukakan gereja Katolik makin tenggelam oleh kekuasaan kepentingan bisnis dan materil. Sementara media umum makin mengedepankan pertimbangan bisnis, media Kristiani tidak bisa senyaring yang diharapkan karena memiliki berbagai keterbatasan. Penting disadari bahwa gereja tidak boleh diam di tempat, tetapi terus bergerak mengikuti pergeseran-pergeseran yang terjadi di masyarakat. Pergeseran-pergeseran itu telah terjadi dari yang semula merupakan kebudayaan lisan ke kebudayaan cetak dan lalu ke kebudayaan elektronik dan cyberspace.

Apapun alasannya gereja berkepentingan untuk selalu memperdengarkan suaranya, mewartakan dan menawarkan nilai-nilai Kristiani kepada dunia. Bisnis gereja itu adalah bisnis pewartaan. Dan sarana ampuh yang diharapkan dapat berperan sangat efektif pada masa-masa mendatang adalah pewartaan melalui dunia maya, pewartaan multi media melalui cyber space yang pada saatnya nanti akan menjadi suatu wabah yang tak terhindarkan.

Memang tidak ada kata terlambat, tapi mengapa gereja harus membiarkan diri tertinggal kalau sebenarnya semuanya bisa dimulai dari sekarang. Lagipula, mengapa gereja harus membiarkan diri terisolir jika dengan pewartaannya melalui multimedia umat dapat memetik buah interaksi langsung dengan gembalanya. Rasa terisolir ini terutama dirasakan oleh umat kita yang berada di keuskupan terpencil semacam Sorong atau Flores. Di Sorong, jaringan Internet yang baru saja terbentuk sangat terasa manfaatnya karena pos reguler pun sering tak sampai ke tujuan. Sementara di Flores yang sering disebut sebagai the most hopeless place sekedar undangan retret saja tak kunjung diterima bahkan hingga acara sudah berlangsung.

 

INFRASTRUKTUR JARINGAN KOMUNIKASI ANTAR KEUSKUPAN SELURUH INDONESIA (JAKUSI)

Menyadari peran krusial teknologi informasi dalam mengubah wajah masyarakat sekarang dan terlebih di masa mendatang, Komisi Komunikasi Sosial KWI (KOMSOS KWI) merencanakan suatu proyek Pembuatan Infrastruktur Jaringan Komunikasi Antar Keuskupan Seluruh Indonesia (JAKUSI). Proyek JAKUSI bertujuan untuk menghubungkan 34 Keuskupan di Indonesia (inter dan intra) melalui internet: 8 keuskupan di Jawa, 6 keuskupan di Sumatra, 7 keuskupan di Kalimantan, 3 keuskupan di Maluku, 3 keuskupan di Nusa Tenggara Timur, 3 keuskupan di Nusa Tenggara Barat dan 4 keuskupan di Papua. Sebagai pilot project telah dibangun infrastruktur jaringan di Keuskupan Purwokerto (Serayu-Net) yang telah membuktikan betapa besar kegunaannya khususnya dalam menghadapi musibah banjir yang melanda Purwokerto dan sekitarnya akhir tahun yang lalu. Jaringan serupa juga telah dibangun di Keuskupan Sorongdan di Keuskupan Sorong-Manokwari, Papua.

 

TUJUAN

Bila jaringan internet antar keuskupan ini terhubung diharapkan adanya sarana komunikasi yang lebih cepat, lebih murah dan lebih praktis antar anggota Gereja, khususnya bagi mereka yang ingin terlibat lebih aktif dalam kegiatan pelayanan Gereja. Sehingga melalui jaringan ini umat dalam suatu keuskupan akan lebih lancar dan efisien bertukar informasi antar umat—awam, biarawan/biarawati, pastor—antar paroki, antar biarawan/biarawati sekonggregasi, antar keuskupan, bahkan lintas negara.

Pada jangka panjangnya KOMSOS KWI diharapkan dapat menjadi semacam kantor berita bagi pewartaan iman Katolik di Indonesia. Cikal bakal dari kantor berita ini adalah KWI WEBSITE (www.kawali.org dan www.mirifica.org) yang akan menjadi semacam integrasi berbagai media cetak dan elektronik dengan tingkat independensi yang tinggi karena sekaligus merupakan corong KWI yang tidak bisa dibeli. Adapun para klien nya adalah websurfers, dan radio keuskupan, RVA (Radio Veritas Asia). Komisi KOMSOS akan pula berfungsi sebagai pengumpul, pengedit dan pengemas informasi (gathering, editing, packaging) dari jaringan local, paroki dan keuskupan dari seluruh Indonesia. Dengan kata lain, KOMSOS akan menjadi seperti JASAMARGA, yaitu sebagai pengelola jalan tol informasi gereja. Lintasan yang mulus ini akan merangsang umat untuk memanfaatkannya setiap saat.

 

 

 

Kembali ke atas

 
 
 
   
Copyright©Kawali.Org 2001-2002